Bitung adalah kota pelabuhan di Sulawesi Utara yang terkenal akan hasil lautnya. Perekonomian Bitung banyak didorong oleh sektor perikanan di mana sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor ini sebagai mata pencaharian. 

Astina Monto, sejak 1986 sudah menjadi penjual ikan atau petibo yang menjual di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Bitung. Sebagai petibo, Astina sudah menguasai  harga taksiran ikan dari beragam ikan yang ada di TPI. Ikan yang dijualbelikan Astina pun beragam – mulai dari Ikan Tuna, Mahi-mahi, Tude, hingga Gorara. 

Berawal dari mengikuti jejak sang kakak sebagai petibo, Astina mulai berjualan ikan di pasar. Seiring dengan berjalannya waktu, Astina mulai menambah jumlah ikan yang dijual dan merambah ke pasar berbeda di Airmadidi, Manado, bahkan hingga ke pulau Sangihe dan Gorontalo.

Foto: SecondMuse/Ina Saptiono

Ketika perusahaan-perusahaan perikanan mulai bermunculan di Bitung, Astina mengembangkan sayapnya dan memfokuskan diri menjual ikan langsung ke perusahaan-perusahaan. Biarpun sudah meraih sukses dengan penjualan ke perusahaan, Astina tetap menjual di TPI Bitung karena banyaknya pelanggan tetap yang selalu menunggu Astina. Dalam sehari, Astina paling sedikit menjual 50 kilogram ikan dan di musim baik ia bisa menjual hingga 500 kilogram.

Dalam 30 tahun menjadi petibo, tentu banyak perubahan yang dirasakan Astina. Perubahan paling dirasa ketika moratorium perizinan usaha perikanan tangkap asing diberlakukan, karena nelayan-nelayan kecil hasil lautnya bertambah dan para petibo jadi bisa memperoleh banyak ikan. Sekarang, jumlah ikan yang didapat bisa jauh lebih banyak. Beberapa regulasi yang memperketat IUU dan penggunaan Vessel Monitoring System (VMS), jumlah tangkapan ikan di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 25% (Global Fishing Watch, 2019).

Bersaing dengan petibo laki-laki merupakan hal yang biasa dan bukan menjadi halangan bagi Astina. Kunci sukses sebagai petibo diukur dari kepintaran dalam menaksir harga ikan dan melakukan jual-beli. Bersaing bersama penjual lainnya baik di TPI maupun di pasar, semangat pantang menyerah harus tinggi karena Astina percaya bahwa rejeki sudah ditentukan Tuhan dan kita harus berupaya untuk mencapainya.


Cerita ini merupakan bagian dari kampanye Indonesian Women in Fisheries yang diselenggarakan oleh SecondMuse dan USAID Oceans and Fisheries Partnership untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai peran perempuan dalam sektor perikanan. Tujuh cerita perempuan inspiratif asal Bitung, Sulawesi Utara akan dipublikasikan selama kampanye berlangsung. Ikuti tagar #IDwomeninfisheries di Instagram dan Twitter untuk membaca semua ceritanya.

Nov 22, 2019 - 8:00 am